Minggu, 17 Februari 2013

Bulan dan Matahari

Di suatu malam yang cerah, dimana sinar purnama yang bulat sempurna tampak begitu jelas membuat warna biru langit dan gerumbulan awan putih selembut kapas begitu indah untuk dipandangi, nampak seorang remaja berusia belasan tahun dengan jenis kelamin dinyatakan laki-laki tulen menekuk-nekuk mukanya hingga kusut cemberut nyaris tak tertolong untuk kembali ke wujud semula kecuali direndam di larutan softener dengan tingkat kekentalan yang luar biasa tinggi, dijemur dengan sinar matahari sedang dan diseterika selama tiga puluh menit dengan tambahan pelicin muka semprot, membanting bokongnya keras ke lantai duduk di sebelah ayahnya.
“Kenapa?” begitu tanya ayahnya.
Lalu remaja itu menjawab.”Aku benci kakak.”
“Kenapa?” tanya ayahnya lagi.
“Dia menyebalkan! dia bla bla bla…..” kata remaja dengan puluhan kalimat umpatan menjelekkan kakaknya yang harus disensor dalam kalimat ini oleh saya sebagai pengarangnya.
“Terus?” ayahnya kembali bertanya.
“Ya sudah. pokoknya aku sebel! pake banget!” kata remaja itu menegaskan.
lalu ayahnya tidak bertanya lagi, membiarkan suasana hening sejenak diantara kebersamaan mereka. “sudah lega?” lalu kembali bertanya pada anaknya.
“lumayan.” begitu jawaban si remaja yang mulai menghilangkan efek kusut yang dia ciptakan.
“Lihatlah bulan itu! indah sekali. kalau kau sering baca buku sastramu, biasanya bulan itu sering diumpamakan sebagai dewi malam. keindahannya terpancar dari sinar kuningnya itu.” sang ayahpun bercerita.
“Itu palsu! itu bukan milik bulan, dia hanya memantulkan sinar matahari. aslinya dia sangat buruk, jika semakin diperhatikan, guratan di permukaannya sangat jelas dan sangat buruk.” katanya si remaja mencibir.
“itulah yang namanya saudara!” tegas sang ayah sembari menepuk tengkuk anaknya.
sementara anaknya malah mengerutkan dahi dan memanyunkan kembali mulut hingga begitu dekat dengan hidungnya.
“matahari dan rembulan, mereka di langit yang sama, tapi tidak pernah rebutan daerah kekuasaan. mereka selalu ada meski kadang tidak tampak. di siang hari matahari tetap eksis memberikan sinar kehidupan bagi seluruh makhluk bumi dan seluruh jagad raya, sementara bulan, dia bercahaya di malam hari untuk menerangi dan mempercantik malam. anggap saja matahari mengalah di malam hari, bukan sekedar untuk bulan saja, tapi juga agar bintang lain yang tak sedekat matahari bisa menunjukkan sinarnya mempercantik angkasa di malam hari. matahari begitu baik pada bulan bukan?!” panjang kalimat sang ayah.
“Oh ya?” tanya si anak.
“Ya, matahari itu sangat baik karena dia selalu berusaha menutupi keburukan sang bulan dengan membiarkan sinarnya terpantul oleh rembulan, sehingga guratan yang kamu anggap buruk itu tersamarkan oleh cahaya bulan yang indah. itulah seharusnya saudara menutupi keburukan saudaranya, bukan malah menjelekkan saudaranya.” kata sang ayah menambahkan.
“Tapi persaudaraan bulan dan matahari tidak seimbang, simbiosis parsitisme.” tukas si anak.
“kok bisa?” tanya sang ayah.
“Lihat saja saat gerhana matahari, bulan menutupi permukaan matahari, memang terlihat indah, tapi bulan mengubah matahari menjadi jahat. matahari mengeluarkan sinar UV yang bisa membahayakan makhluk di bumi. bukan begitu?” tegas si anak.
“Tapi itu tidak berlangsung lama, hanya sekian menit, dan hanya terjadi dalam hitungan puluhan tahun. menjadi momen yang selalu dinantikan manusia, sebagai keajaiban luar biasa, dan matahari tetap tidak mengeluh dan terus memberikan sinarnya untuk dipantulkan bulan.” kata ayahnya sambil mengelus-elus jenggotnya yang hanya beberapa helai.
“Lalu apa yang di dapat matahari?” suara anaknya meninggi.
“Ada beberapa atau bahkan banyak hal yang terjadi, dilakukan, dkerjakan tanpa harus memikirkan untung dan ruginya, bukankah memberi lebih meberi rasa terhormat dan menyenangkan hati kita dibanding hanya terus-menerus menerima.” datar kalimat ayahnya.
si anak diam mencoba mencerna ucapan ayahnya.
“jadi masih sebel dengan kakak?” tanya ayahnya.
“masih lumayan.” jawabnya.
“Kenapa?” tanya ayahnya lagi.
“Entahlah, mungkin karena aku masih menghitungnya dengan ukuran untung dan rugi.”
???????!!!!!!!! :( :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar